Senin, 22 November 2010

Ujian Nasional Dijadwalkan April 2011

JAKARTA--MICOM: Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Djemari Mardapi mengatakan pelaksanaan Ujian Nasional untuk tingkat SMA/MA, SMA Luar Biasa dan SMK tahun 2011 diperkirakan akan dilaksanakan pada awal April. Sedangkan ujian ulangan digelar satu bulan setelah pelaksanaan UN utama yakni sekitar akhir Mei.

"Bila pada tahun ini ujian nasional dilaksanakan pada bulan Maret, maka tahun depan diperkirakan mundur menjadi April," katanya pada Lokakarya UN di Jakarta, Jumat (15/10).

Ia mengatakan untuk UN tingkat SMA,MA,SMALB dan SMK  2011 direncanakan dilaksanakan pada 4 hingga 9 April. Sementara untuk ujian ulangan akan digelar pada 23-27 Mei.

Sementara itu, ujian utama tingkat SMP,MTS dan SMPLB dapat dilaksanakan pada 11-14 April dan ulangan 23-24 Mei. Sementara Ujian Akhir Sekolah Berstandar Nasional (UASBN) diselenggarakan pada Mei 2010.

Djemari menjelaskan sambil menunggu tahun depan UN akan disempurnakan. Seperti kriteria kelulusan untuk sekolah yang telah mencapai standar nasional pendidikan atau kategori mandiri ditentukan oleh BSNP. "Sementara untuk yang belum penuhi standar ditentukan oleh masing-masing provinsi," katanya.

Penyelenggaran UN SMA,SMK dan MA, tambahnya, BSNP mendelegasikan pelaksanaanya pada perguruan tinggi yang diselenggarakan pemerintah dengan dibantu oleh dinas pendidikan dan Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP). Sedangkan untuk tingkat SMP dan MTS dilakukan oleh dinas pendidikan provinsi dan kota.

Djemari menambahkan, penyempurnaan lainnya yakni mengenai pencetakan bahan ujian nasional harus dilakukan oleh perusahaan yang memenuhi kriteria dan sebaiknya dilakukan pada rayon seperti rayon Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur. "Pencetakan bahan UN SMA,MA, dan SMK dilakukan perguruan tinggi negeri," katanya.

Pihaknya juga akan meniadakan tim pemantau independen yang bertugas memantau pelaksanaan UN untuk SMP dan MTS dan akan diserahkan pada dinas pendidikan dan kabupaten. Djemari menegaskan, UN wajib dilaksanakan pada semua satuan pendidikan karena amanat dari PP No 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. (Ant/OL-2)

Sabtu, 23 Januari 2010

Ujian Nasional Diubah pada 2011

Pemerintah Dinilai Paksakan Kehendak

Jakarta, Kompas - Perubahan mendasar pada pelaksanaan ujian nasional baru bisa dilaksanakan pada tahun 2011. Jika perubahan dilakukan dalam ujian nasional tahun ini yang sebentar lagi digelar, dikhawatirkan bakal menimbulkan kebingungan bagi siswa dan sekolah.
”Keinginan untuk memperbaiki UN guna mengakomodasi keinginan masyarakat mesti dilaksanakan, UN tahun 2010 ini sebagai masa transisi untuk perbaikan mendasar UN pada tahun berikutnya,” kata Rully Chairul Azwal, Ketua Panitia Kerja Ujian Nasional Komisi X DPR di Jakarta, Jumat (22/1).
Rully mengatakan, DPR tidak lagi mempersoalkan apakah UN kali ini sah pascaputusan Mahkamah Agung yang menolak kasasi pemerintah soal gugatan UN. Dari konsultasi dengan MA, Ketua MA Harifin A Tumpa menegaskan bahwa tidak ada penghentian, pelarangan, atau penundaan UN.
”UN tahun ini tidak melanggar putusan MA. Jadi, kami anggap masalah hukum UN sudah selesai,” ujar Rully.
Adapun hasil UN sebagai penentu kelulusan, kata Rully, memang masih diperdebatkan. Masih ada fraksi di Komisi X yang meminta supaya hasil UN tidak sebagai syarat kelulusan dan saling memveto.
”Kami menyadari jika standar pendidikan kita belum merata. Jangan sampai UN itu membawa korban pada siswa dan sekolah-sekolah yang belum mencapai standar pelayanan minimum. Tetapi, perubahan itu kita siapkan untuk UN berikutnya supaya hasil UN jangan lagi merugikan siswa,” tegas Rully.
Hingga saat ini, dana alokasi UN senilai Rp 562 miliar masih diberi tanda bintang yang artinya belum disetujui Komisi X. Keputusan penghapusan tanda bintang diputuskan pekan depan, menunggu hasil kerja panitia kerja UN.
Pemaksaan kehendak
Secara terpisah, Muhammad Isnur, Koordinator Tim Advokasi Korban UN, mengatakan, pemerintah melakukan pemaksaan kehendak dengan tetap melaksanakan kebijaksanaan UN. Presiden dan Mendiknas dinilai hanya mencari-cari dalil dan legitimasi bahwa UN tidak bertentangan dengan putusan MA.
”Presiden, Wapres, Mendiknas, dan Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) telah divonis lalai dan melanggar dalam pemenuhan dan perlindungan HAM.
Isnur menilai MA juga lari dari tanggung jawab untuk memenuhi putusan yang dibuatnya sendiri. ”Pengujian atas putusan seharusnya juga dilaksanakan melalui proses eksekusi dan penilaian majelis hakim bukan dilemparkan kepada anggota DPR yang merupakan lembaga politik,” ujar Isnur.
Di Semarang, anggota BSNP, Mungin Eddy Wibowo, mengimbau agar tim pengawas satuan pendidikan dan tim pemantauan independen lebih berani dan tegas dalam pelaksanaan ujian nasional tahun ini. Tim pemantau dan pengawas harus berani masuk ke ruang ujian jika menemukan pelanggaran dan menindak pelakunya.
Rektor Universitas Negeri Semarang (Unnes) Sudijono Sastroatmodjo mengatakan, pihaknya siap untuk melaksanakan UN. Unnes bertanggung jawab dalam pengawasan pencetakan berkas soal dan pelaksanaan ujian serta pemindaian soal.
Sudijono pun menekankan bahwa perguruan tinggi tidak dapat bertanggung jawab dalam proses pencetakan naskah soal karena terkendala persoalan biaya dan peralatan.

Rabu, 02 Desember 2009

Tulislah, dan Seluruh Masalahmu Lenyap


TIDAK banyak orang hobi menulis buku harian. Padahal dengan mengungkapkan segala masalah, emosi dan persoalan yang dihadapi dalam buku harian, langkah ini bisa jadi terapi untuk menyembuhkan trauma emosional yang dihadapi.
Empat tahun lalu, Veronica Chapa mengalami depresi berat. Dia patah hati. Kecewa dengan mantan pacarnya dan merasa heran kenapa dia bisa memilih lelaki macam Joni yang tidak pernah punya perhatian sedikitpun pada dirinya.
Tidak mau melakukan kesalahan yang kedua kalinya, Veronica mengikuti sebuah terapi. Harapannya dengan terapi itu dia bisa mengenal dirinya sehingga tidak salah lagi dalam berkeputusan. Ikutlah dia dalam sebuah kelompok terapi menulis.
Karena latar belakangnya adalah penulis di bidang marketing, Vero, begitu gadis usia 29 tahun disapa, merasa terapi ini tampaknya tidak begitu sulit dan akan mudah untuk diikutinya. Namun, kelihatannya dugaan Vero meleset. “ Saya tahu, saya hanya tinggal menulis pada kertas kosong yang disediakan, tapi rasanya kok sulit ya menulis tentang diri sendiri,” jelasnya.
Pemimpin lokakarya ini, Michele Weldon, penulis buku berjudul Writing to Save Your Life memiliki solusi sederhana buat Vero. “Tulislah surat untuk diri sendiri,”. dan Vero pun mulai menemukan kuncinya. Lalu, mulailah dia menangis, beberapa menit setelah menulis dua kata di kertasnya, berbunyi “Dear Veronica.”
“Sekali dua kata itu tertuliskan, langsung terbukalah kepenatan, kekecewaan serta kegelisahan yang saya alami. Semuanya seolah mengalir dan membual keluar tanpa bisa ditahan,” ungkap Veronica. 
Mirip dengan Chapa, kali ini pengalaman datang dari seorang mahasiswi di sebuah Universitas di Jakarta. Sebut saja namanya Dian. Gadis manis usia 22 tahun ini bercerita kepada SENIOR. “Setiap kali saya ada masalah, selalu yang menjadi teman buat penghibur adalah buku harian saya,” jelas gadis asal Semarang ini.
Buku ini, cerita Dian, adalah tempat curahan hatinya. Banyak kali dan apa pun masalah yang dialaminya, Dian ceritakan semuanya lewat kata-kata dan tulisan. “Mungkin bisa jadi novel kalau seluruh cerita di gabung-gabung,” ungkapnya.
Dan memang, menurut Dian, buku harian itu layaknya seorang terapis yang bisa menyembuhkan segala gundah gulanda yang dialaminya. Kekecewaan dan semua perasaan hati yang tidak menyenangkan bisa sedikit demi sedikit hilang seolah ditelan habis oleh lembaran-lembaran kertas wangi buku hariannya.
Kuncinya Berani Mulai
Chapa dan Dian hanyalah sedikit contoh orang yang mencoba menggunakan tulisan sebagai satu cara untuk masuk ke dalam dirinya sendiri. Hanya dengan mengambil pena lalu menuliskan segalanya, semua persoalan yang mengganjal dan membebani membalik menjadi sesuatu yang lebih menantang.
Namun, “Begitu banyak orang merasa tidak bisa dan kesulitan memulai semuanya,” jelas natalie Goldberg, pengarang buku Writing Down the Bones.
Namun seperti Chapa dan Dian, kuncinya adalah berani untuk mulai. Dengan sendirinya, kita akan menemukan gaya tulisan kita.
Seiring dengan populernya terapi ini, para psikolog kemudian menemukan bahwa ternyata bentuk terapi tulisan ini tidak bisa diterapkan untuk setiap orang. Bentuk tulisan lain mungkin akan lebih berguna dalam membantu mencapai transformasi pribadi. “Tidak ada bentuk tunggal. Setiap orang memiliki gaya dan modelnya masing-masing,” jelas James W. Pennebaker, psikolog dari University of Texas di Austin. “Selain itu, trauma yang dialami antara orang yang satu dengan yang lain sangat berbeda.
Kadar kesulitan dan beratnya masalah juga berbeda,” tegas James.
Meski demikian, menurut James, tulisan terutama yang berisi ungkapan hati, bagi penulisnya sendiri memiliki potensi besar dalam menyembuhkan ketidakseimbangan emosi. Bahkan bisa juga meredam gejala-gejala yang muncul akibat penyakit kronis.
Beberapa tahun lalu, James Pennebaker adalah psikolog yang dikenal sebagai penulis dan penggagas mengenai manfaat tulisan dalam menyembuhkan trauma emosional. Dalam tulisannya, James bahkan menyebutkan kalau tulisan yang berupa ungkapan hati pribadi seseorang bisa meningkatkan fungsi kekebalan tubuh. Dalam penelitian lain, bahkan ditemukan bahwa asma dan arthritis  dapat diredam dan diperbaiki dengan metode menulis seperti ini.
Mengambil Jarak
Apa sebenarnya yang terjadi saat menulis sehingga tulisan tampaknya memiliki kekuatan luar biasa menyembuhkan trauma fisik dan psikis? James menyebutkan, ketika seseorang mulai menuliskan seluruh emosi dan pengalamannya dalam sebuah tulisan, dia seolah menempatkan seluruh pengalamannya itu dalam sebuah frame seperti Anda meletakkan foto diri Anda dalam sebuah figura.
Saat itulah, Anda bisa melihat dengan jelas masalah apa yang sebenarnya Anda hadapi. Menulis, menurut James adalah sebagian langkah menuju tindakan refleksi. Sehingga harapannya, segala persoalan akan bisa dianalisis atau dilihat lagi secara proporsional. Namun, kalaupun tidak dilihat lagi, tulisan tetap membantu.
Secara filosofis, langkah menulis memberi jarak antara Anda sendiri dan masalah yang sedang dihadapi. Karenanya, seluruh pengalaman bisa dilihat lagi dengan jelas dan Anda menjadi tidak terobsesinya olehnya. Dengan mengambil jarak inilah, proses penyembuhan berlangsung. (Kompas.com, Jumat, 11 Januari 2008)

Selasa, 01 Desember 2009

Duh.. Pak Guru kok Transaksi Narkoba

SURABAYA, KOMPAS.com - Muhamad Syafi’i (36), guru sebuah sekolah swasta di kawasan Mulyorejo, Sabtu (28/11) malam dibekuk polisi usai melakukan transaksi narkoba di Jl Kaliasin Pompa, Surabaya. Warga Jalan Kedung Rukem ini ditangkap bersama barang bukti satu poket sabu-sabu (SS) seberat 0,25 gram.

Awalnya, polisi menarget pengedar berinisial D. Menurut Kanit Reskrim Polsek Mulyorejo Aiptu Suparmin, D diketahui sebagai pengedar yang tinggal tak jauh dari rumah Syafi’i. “Dari informasi masyarakat, D disebut-sebut akan transaksi narkoba dengan seseorang di Jl Kaliasin Pompa. Kami pun menyanggong ke sana, tapi ternyata transaksi sudah selesai,” kata Suparmin, Minggu (29/11).

Polisi hanya menemukan Syafi’i sambil membawa narkoba hasil transaksi. Dia langsung dibawa ke Mapolsek Mulyosari untuk menjalani pemeriksaan. Dalam pemeriksaan, dia mengakui baru saja transaksi narkoba dengan D. ”Saya kenal D satu minggu yang lalu. Terus dia cerita tentang narkoba dan saya ingin mencobanya,” ujar Syafi’i.

Syafi’i membeli satu poket SS seharga Rp 500.000. Rencananya, akan dikonsumsi sendiri di rumah. Tapi belum mencicipi, dia sudah keduluan dibekuk polisi. ”Tapi kami tidak percaya begitu saja, karena biasanya pengguna narkoba selalu mengatakan baru pertama kali saat tertangkap,” jelas Suparmin.

Sabtu, 28 November 2009

Tantangan Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter

Gagasan untuk mengembangkan visi guru sebagai pelaku perubahan semestinya menjadi bagian hakiki kinerja seorang guru. Namun, mempromosikan gagasan ini tidaklah mudah. Dalam hal mengajar misalnya, banyak guru yang masih merasa nyaman dengan hanya duduk di depan kelas dari tahun ke tahun. Cara mengajar yang sekadar duduk di depan kelas sesungguhnya menjadi tanda kurangnya dinamisme. Padahal dinamisme adalah bagian esensial bagi sebuah perubahan. Mungkin itu hanyalah contoh kecil. Bisa jadi ini hanya simbolis dan tidak mewakili keadaan guru secara keseluruhan. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa berubah bukanlah sebuah urusan bisnis yang sederhana. Umumnya, guru sulit berubah, bahkan setelah melewati berbagai macam kursus, seminar, pelatihan, dan kegiatan semacamnya, karena telah memiliki cara mengajar tersendiri yang menjadi andalan, yang tidak dapat disentuh oleh orang lain. Pendek kata, mengajar dianggap merupakan privasi guru di dalam kelas.
Doni Koesoema, dalam bukunya "Pendidik Karakter di Zaman Keblinger: Mengembangkan Visi Guru sebagai Pelaku Perubahan dan Pendidik Karakter", berupaya mengembangkan dan meradikalkan visi dan peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Hal tersebut perlu, terutama kala profesi keguruan cenderung mudah terjebak dalam perangkap konflik kepentingan, ekonomi, dan kelompok politik tertentu yang dangkal.
Menurutnya pula, sebagai pelaku perubahan, guru bisa memainkan peran memperbarui tatanan sosial masyarakat dengan cara memperkaya dan memperkokoh kepribadian siswa serta menanamkan kesadaran kritis melalui fungsi transformatif pendidikan yang dimulai dengan pembentukan dan pendidikan karakter. Proses pengembangan karakter di sekolah dilakukan menyeluruh (integral) antara diskursus dengan praktik dan antara kegiatan kurikuler (akademis) dengan pergaulan sehari-hari.
Masih menurut Doni, sekarang ini kita hidup pada zaman keblinger, sebuah zaman saat dunia lari tunggang langgang dan menciptakan situasi yang membuat guru kehilangan orientasinya.
Otonomi dan kebebasan untuk merumuskan jati diri sebagai guru menjadi sulit sekali untuk dijaga. Jangankan untuk menghambat terorisme global, untuk melawan ujian nasional yang merenggut otonomi guru saja mereka tidak mampu. Jangankan berurusan dengan perusahaan multinasional, untuk mengurus uang Bantuan Operasional Sekolah (BOS) saja tidak becus. Dalam situasi seperti ini, guru sering tidak sadar dengan peran dan visi strategis dan radikal yang mesti mereka miliki. Bagaimana bisa menjadi pelaku perubahan jika untuk mengubah dirinya saja guru masih kesulitan. Ketika sekolah atau otoritas negara berupaya meningkatkan mutu guru melalui sejumlah kegiatan, seperti pelatihan, lokakarya, seminar, atau semacamnya, ternyata semua itu tidak cukup memberi dampak positif. Bahkan, untuk sebuah perubahan mendasar yang menyangkut kemampuan pedagogis maupun penguasaan bahan ajar.
Ini pula yang kemudian memberi kesan bahwa guru-guru yang sudah lolos sertifikasi pun dinilai belum menunjukkan peningkatan kompetensi dan profesionalismenya. Sulistiyo, Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), bahkan mengingatkan guru untuk introspeksi diri apakah sudah menjalankan tugasnya secara profesional. ”Guru harus terus didorong untuk mengembangkan profesionalismenya,” kata Sulistiyo. PGRI menilai isu profesionalisme guru ini harus mendapat perhatian serius karena tidak akan pernah ada pendidikan yang bermutu jika kualitas gurunya tidak bermutu. (Kompas, 25/11)
Doni menilai, ini terjadi karena tak ada kerangka kerja jangka panjang yang melatarinya sehingga perubahan radikal yang diharapkan tak kunjung dicapai. Untuk itulah, ia kemudian merumuskan tujuh strategi untuk membumikan gagasannya yang hendak meradikalkan visi dan peran guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter. Ketujuh strategi itu adalah menjernihkan visi sebagai guru, menumbuhkan semangat peneliti dalam diri guru, membiasakan umpan balik dari para pemangku kepentingan, menumbuhkan kejujuran akademis, mempraktikkan pembelajaran kolaboratif, mengembangkan sekolah sebagai komunitas belajar profesional, dan menumbuhkan kultur demokratis di sekolah.
Ketujuh strategi tersebut memang tidak bersifat teknis karena hal yang ingin dicapai adalah perubahan paradigma. Meski demikian, penjernihan visi sebagai guru sangatlah penting. Visi inilah yang berfungsi sebagai orientasi dan landasan yang memotivasi guru untuk bertindak, beraktivitas, dan mengembangkan diri. Visi seseorang sebagai guru juga dapat dilihat dari bagaimana dia memahami tujuan pendidikan, pengajaran, siswa, pengetahuan, dan masyarakat. Dengan kata lain, visi sangat berkaitan dengan sejumlah asumsi dasar yang akan sangat berpengaruh terhadap praktik pendidikan dan pembelajaran di kelas.
Tentu saja upaya mengubah paradigma dan visi mendasar dari profesi keguruan tidaklah sederhana karena terkait kompleksitas persoalan yang dihadapi guru di lapangan. Pada zaman keblinger ini, misalnya, mistifikasi profesi guru terjadi ketika muncul euforia berlebihan oleh komunitas dalam mengidealkan berfungsinya peranan guru. Di sisi yang lain, beban kerja dan rutinitas di sekolah semakin menyulitkan guru mengembangkan dan mengubah diri.
Inilah tantangan yang harus dihadapi untuk mengembangkan visi guru sebagai pelaku perubahan dan pendidik karakter di zaman keblinger. Siapkah guru-guru untuk menjawabnya?

Kamis, 26 November 2009

Asvi Menggapai Kebenaran Sejarah

Hari-hari akhir bulan September menjadi istimewa bagi Asvi Warman Adam (55). Obsesinya menguak kebenaran sejarah, di antaranya tentang Peristiwa 1965, lagi-lagi memperoleh momentum. Dia ajak pemerintah, sesama sejarawan, dan masyarakat berpikir ulang tentang narasi-narasi masa lampau, utamanya tragedi 1965.
Mengenai kemungkinan pelanggaran berat HAM, sekitar Peristiwa 1965, menurut ahli peneliti utama LIPI itu, peristiwa Pulau Buru sebagai peristiwa paling jelas. Tempatnya jelas, tahun terjadinya jelas, pelakunya jelas, serta korban dan jumlahnya jelas. Dengan tujuan mengamankan Pemilu 1971, lebih dari 10.000 orang yang digolongkan tahanan politik 1965 golongan B dimasukkan ke kamp kerja paksa lebih dari 10 tahun. Stigma buruk diterapkan kepada mereka, selain pembunuhan, penangkapan tanpa proses dan pengadilan.
Kasus Pulau Buru merupakan mata rantai peristiwa sekitar 30 September 1965. Selama bertahun-tahun narasi tentang peristiwa itu hanya satu versi, yakni versi Orde Baru, bagian dari upaya justifikasi kekuasaan dan pengumpulan kekuatan. Justifikasi itu diawali dengan pembunuhan besar-besaran setelah 1 Oktober, ada yang memperkirakan jumlahnya lebih dari setengah juta orang. Penciptaan narasi tunggal disusul proyek Pulau Buru. Gugatan yang muncul dibungkam.
Seiring deru reformasi tahun 1998, masyarakat mulai kritis dengan narasi dan pencitraan versi tunggal. Film Pengkhianatan G30S/PKI yang diputar luas setiap akhir bulan September digugat. Menurut dia, tidak lagi diputarnya film itu secara luas merupakan satu keberhasilan. ”Inilah pertama kali terbuka munculnya upaya meluruskan sejarah Peristiwa 1965. Disusul kemudian berbagai versi yang ditulis para korban dan analis-analis yang sebelumnya tidak terkuak ke permukaan,” kata Asvi Warman Adam.
Asvi mengutip sejarawan Inggris, EH Caar, bahwa kebenaran sejarah gugur manakala ditemukan data baru. Munculnya narasi-narasi baru itu adalah bagian dari ajakan menemukan dan meluruskan. Keputusan politik, katakan ketetapan MPR, adalah produk politik bagian dari justifikasi kekuasaan. Oleh karena itu, ketika data baru semakin banyak ditemukan, versi tunggal perlu ditinjau ulang, kalau perlu, ditindaklanjuti dengan rehabilitasi nama baik dan permintaan maaf dari pemerintah.
Sampel yang representatif
Demi pelurusan sejarah dan hapusnya pembohongan, Asvi tidak hanya memimpikan sekitar Peristiwa 1965 atau peristiwa lain, seperti Peristiwa Mei 1998, tetapi bahkan sejak awal Indonesia merdeka. Tidak perlu semuanya, tetapi dipilih peristiwa dan masalah sebagai sampel yang representatif. Misalnya, kurun 1945-1955, 1955-1965, dan seterusnya, sehingga diperoleh sekitar 10 kasus.
Asvi setuju bahwa demi alasan politis ada bagian-bagian peristiwa yang ditutupi, tergantung dari perspektif masing-masing. Namun, kalau narasi itu adalah kebohongan, itu perlu dibongkar. Taruhlah kisah tentang Serangan Oemoem 1 Maret dengan cara menghilangkan peran tokoh lain. Itu kebohongan sejarah.
Awal ketertarikannya ke sejarah Peristiwa 1965 dimulai pada satu peristiwa pada tahun 1999. Dia diminta ceramah oleh Yayasan Hidup Baru, sebuah yayasan yang mengurusi bekas tahanan politik 1965. ”Saya terharu atas semangat juang mereka. Saya terharu ketika mereka, bapak-ibu berusia sepuh itu, mengumpulkan uang recehan. Hasilnya sekitar Rp 25.000, diserahkan sebagai honorarium ceramah saya,” kenang Asvi.
Dengan ketekunan, dia ikuti dan teliti segala narasi Peristiwa 1965 yang berkembang selama ini. Dia sampaikan obsesi itu dalam berbagai tulisan dan karangan pengantar buku, yang semuanya berfokus ajakan menguak kebohongan sejarah, utamanya sekitar Peristiwa 1965.
Dari tujuh buku yang sudah ditulisnya, menulis Peristiwa 1965 tidak hanya berkenaan dengan peristiwa satu malam tanggal 30 September, tetapi juga penangkapan, penahanan, perburuan massal yang memakan korban lebih dari setengah juta orang, pencabutan paspor mahasiswa Indonesia di luar negeri, serta pembuangan paksa 10.000 tapol ke Pulau Buru tahun 1969-1979. Hal itu termasuk stigma dan diskriminasi jutaan orang keluarga korban Peristiwa 1965. Peristiwa-peristiwa itu disebutnya ”pancalogi”, sebagai rangkaian prolog, peristiwa, dan epilog G30S (Asvi Warman Adam, 1965. Orang-orang di Balik Tragedi, Galangpress, 2009).
Bagi Asvi, Peristiwa 1965 merupakan tanda atau pembatas zaman. Dari banyak peristiwa sejarah yang dialami bangsa Indonesia, Peristiwa 1965 merupakan pembatas zaman dalam berbagai bidang. Perubahan politik yang besar terjadi dalam bergesernya kedudukan Indonesia dari pemimpin negara nonblok dan dunia ketiga menjadi ”murid yang baik” AS. Kebijakan ekonomi berdikari menjadi kebijakan ekonomi pasar yang bergantung pada modal asing. Tidak ada kritik, tidak ada polemik, semua dalam satu versi, yakni versi pemerintah.
Peralihan dari profesi wartawan (3 tahun sebagai wartawan) ke peneliti/sejarawan tidak kecil peranan yang diberikan Prof Dr AB Lapian. Dalam status belum setahun bekerja di LIPI, setelah keluar dari majalah Sportif tahun 1983, Asvi memperoleh tawaran mengajar Bahasa Indonesia di Paris, Perancis, sekaligus beasiswa. Dia perlu memperoleh rekomendasi pimpinan LIPI. Lapian bertanya, ”Rekomendasi saya tulis dalam bahasa Inggris, Perancis, atau Indonesia?” Akhirnya rekomendasi ditulis dalam bahasa Indonesia, menerakan bahwa Asvi boleh ke Paris mengajar sekaligus belajar. ”Nah, itulah titik balik profesi saya,” Gelar doktor ilmu sejarah pun diperolehnya dengan disertasi tentang sejarah Vietnam.
Di benak Asvi, dia memimpikan narasi sejarah dibebaskan dari kebohongan-kebohongan. Biarlah peristiwa itu sendiri bicara tentang sejarahnya! Menggapai kebenaran sejarah? Yaaah..., Asvi tertawa lepas!
(Oleh : St. Sularto)